Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 April 2012

INDUSTRI PERTAHANAN BERPERAN STRATEGIS DUKUNG PERTAHANAN NEGARA

WAKASAL: INDUSTRI PERTAHANAN BERPERAN STRATEGIS DUKUNG PERTAHANAN NEGARA

 
Industri pertahanan mempunyai peran strategis dalam mendukung penyelenggaraan pertahanan negara, sehingga keberadaan industri pertahanan perlu didorong dan ditumbuhkembangkan agar mampu memenuhi kebutuhan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) dan peralatan yang diperlukan melalui upaya revitalisasi industri pertahanan.
Demikian dikatakan Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Marsetio, M.M saat memberikan sambutan pada acara Sosialisasi Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) di lingkungan Angkatan Laut, Selasa (10/4), di Auditorium Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal), Cilangkap, Jakarta Timur.
Menurut Wakasal, sebagai badan yang membina industri pertahanan dalam negeri, KKIP telah berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan industri pertahanan melalui penerapan kebijakan strategis di bidang industri pertahanan. Kebijakan tersebut, lanjut Wakasal, sangat diperlukan untuk membina industri pertahanan dalam negeri yang mengalami krisis serta membangun industri pertahanan dengan mengutamakan produksi dalam negeri.
KKIP sendiri merupakan sebuah badan yang berkedudukan langsung di bawah Presiden, dan bertugas merumuskan kebijakan nasional  yang bersifat strategis di bidang industri pertahanan, mengkoordinasikan pelaksanaan dan pengendalian kebijakan industri pertahanan, mengkoordinasikan kerja sama luar negeri dalam rangka mengembangkan dan memajukan industri pertahanan, serta melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan industri pertahanan.
Ditambahkan Wakasal, penggunaan alat peralatan hasil industri dalam negeri bukan lagi hal yang baru bagi TNI AL. “Berbagai alutsista produk dalam negeri telah digunakan dalam mendukung pelaksanaan tugas TNI AL dan diantaranya bahkan  dapat menunjukkan performa yang baik serta memiliki kualitas yang tidak kalah dari produk luar,” tegasnya.
Kegiatan Sosialisasi KKIP ini sendiri diikuti lebih dari 300 peserta perwakilan dari Kotama serta Satuan TNI AL seluruh Indonesia, di mana dalam kegiatan tersebut mantan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI (Purn) Sumardjono selaku Tim Asisten KKIP Bidang Hubungan Lembaga memberikan sambutan sekaligus membuka acara, dan dilanjutkan dengan paparan tentang organisasi KKIP oleh Kolonel Laut (T) Rohman, S.T.,  serta paparan tentang sasaran kerja KKIP oleh Dr. M. Said Didu selaku Asisten Bidang Kebijakan KKIP.
Turut hadir dalam kegiatan ini para Asisten Kepala Staf Angkatan Laut, para Panglima Komando Utama Angkatan Laut, para Kepala Dinas di jajaran Mabesal Jakarta, serta para pejabat terkait lainnya.
Demikian berita Dinas Penerangan Angkatan Laut.

Sabtu, 31 Maret 2012

Menanti Kapal Induk Soekarno




Ilustrasi

Senayan - Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PKS Safan Badri mengusulkan pada Panglima TNI, agar dalam pemberian nama kapal perang TNI AL dari produksi dalam negeri ke depannya dapat menggunakan nama mantan Presiden RI HM Soeharto dan KH Abdurahman Wahid (Gus Dur).

"Saya hanya sekadar menyampaikan aspirasi dari beberapa kelompok masyarakat, yang terinspirasi  atas peresmian Kapal Selam di Surabaya dan dua  Kapal Cepat Rudal (KCR) Clurit dan KRI Kujang 642 buatan dalam negeri, di Batam, masyarakat menanyakan apakah mungkin dalam KRI berikutnya,dapat diberi nama KRI HM Soeharto dan KRI  Gus Dur," ujar Safan Badri dalam raker dengan Panglima TNI di Komisi I, Rabu (29/2).

Sementara itu, Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq juga mengusulkan nama KH Agus Salim pada KRI berikutnya.

Merespon atas dua usulan tersebut, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan, penggunaan nama HM Soeharto dan Gus Dur, TNI AL selalu melihat kebesaran nama dengan kondisi Kapal yang di beri nama.

"Artinya, kebesaran Gus Dur dan kebesaran Pak Harto harus sesuai dengan nama kapal yang diberi nama tersebut. Oleh karena itu, kami masih menunggu kapal yang sesui untuk diberi nama Gus Dur maupun Pak Harto," ujar Panglima TNI.

Bahkan, kata Panglima TNI, pihaknya masih menyimpan satu nama, yaitu KRI Sudirman. "Kami masih menunggu akan kehadiran KRI yang besar untuk diberi nama itu, agar kebesaran kapal itu sesuai dengan kebesaran nama Panglima Jendral Sudirman," ujarnya.

Sementara itu, anggota Komisi I DPR lainnya dari PDI-P Sudarto Danu Subroto kembali interupsi pada pimpinan rapat, untuk menayakan kapan pemberian KRI dengan menggunakan nama Soekarno. "Sudah ada bayangan, kapan ada KRI dengan Nama Soekarno?" ujarnya.

Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menimpali, nama KRI Soekarno akan diberikan setelah TNI AL punya kapal Induk. " Ya nanti, kita tunggu sampai kita punya kapal Induk sendiri," tegasnya.

Source : Jurnalparlemen

Sabtu, 09 Juli 2011

KAPAL PERANG TNI AL LATIHAN BERSAMA KAPAL INDUK AMERIKA


Tampak kapal perang TNI AL KRI Diponegoro-365, KRI Slamet Riyadi-352, serta HMAS Darwin-04 saat berlayar dibayangi helikopter dan pesawat dari Angkatan Laut Amerika Serikat yang bermarkas di kapal Induk USS George Washington saat berlayar di perairan ALKI-1 Indonesia. (Foto : Dispenal)
 

Unsur kapal perang TNI AL menggelar latihan bersama dengan unsur kapal induk Amerika Serikat USS George Washington dan kapal Australia saat berlayar di perairan ALKI-1 Indonesia, Kamis (7/7).
Keberadaan Kapal Induk USS George Washington adalah dalam rangka kegiatan TF 70 Battle Ships yang melintas di ALKI-1 yaitu perairan Indonesia dari arah Laut China Selatan ke arah Laut Natuna, Selat Karimata, Selat Sunda, serta Samudera Hindia. Kapal AS ini akan menuju Australia dalam rangka latihan dengan AL Australia.
 
Pada pelayaran tersebut, TNI AL berkesempatan melakukanlatihan bersama atau Passing Exercises (Passex)dengan unsur-unsur kapal perang Amerika Serikat. TNI AL mengerahkan KRI Diponegoro-365 dan KRI Slamet Riyadi-352, sedangkan AL Amerika Serikat mengerahkan USN Ship-73 (kapal induk USS George Washington), USN Ship- 54 (Fregatte), USN Ship-63 (Fregatte), dan HMAS Darwin-04.
 
Materi latihan dalam Passing Exercise ini meliputi Flash ex-Flaghoist, Manuver Tactical, Demonstrasi EOD oleh tim USN di USS George Washington, dan Officers Exchange/pertukaran Perwira, dimana TNI AL menempatkan 7 orang Perwiranya di kapal induk tersebut  hingga diperairan  Selat Sunda.Latihan ini disaksikan langsung oleh Wakasal Laksamana Madya TNI Marsetio, M.M, Wakil Asisten Operasi Kasal Laksamana Pertama TNI Ari Soedewo, S.E, serta Kepala Staf Armada Barat Laksamana Pertama TNI Herry Setianegara, S.Sos.,S.H.,M.M.