Sabtu, 09 Juli 2011

Indonesia "bukan" Gudang Rongsokan!

Hibah F-16 dari AS

Dan nampaknya, pejabat-pejabat senior pemerintahan di Jakarta terkait "hibah" F 16 rongsokan yang berbau kontroversial sejauh ini lebih memilih menyiramkan air dingin dan memilih memuluskan hegemoni dan ketergantungan Indonesia terhadap Amerika Serikat.
Beberapa pekan lalu media-media Tanah Air melaporkan, Indonesia kabarnya akan segera menerima "hibah" 24 pesawat jet tempur F-16 bekas dari Amerika Serikat. Beberapa media juga melaporkan jika Menhan RI, Poernomo Yusgiantoro, dan Komisi I DPR dengan berbinar-binar memastikan menerima rongsokan hibah F 16 tersebut.

"Sudah tidak ada masalah. Dewan sudah ke Amerika dan sudah ke Kongres dan mereka sudah tahu," kata Menteri Poernomo Yusgiantoro usai rapat tertutup dengan Komisi I DPR, Rabu 22 Juni 2011. Koran Tempo melaporkan.
Dalam setahun ke depan dipastikan akan datang 3 hingga 5 pesawat, sesuai dengan kapasitas upgrading pabrikan. Dananya diambil dari alokasi rencana pembelian 6 unit F-16 Block 52 baru. Hibah F-16 "loakan" sebelumnya pernah disampaikan oleh Menhan Rober Gates pada kunjungan ke RI 2008.
Banyak pengamat militer menilai, bahwa hibah ini semata-mata dianggap sebagai solusi wahid untuk memenuhi standar kebutuhan Alutsista negara kita yang kedodoran. Nampaknya pengamat militer kita lupa dan tidak memandang pada sisi kualitas, efektifitas dan effisiensi.
Jika ditelusuri lebih detail, Amerika Serikat selalunya menjual semua peralatan senjata 'rongsokannya' kepada negara lain sesuai dengan kadar posisi dan kondisinya, terutama dilihat dari sejauh mana hubungan keharmonisan negara tersebut dengan Amerika Serikat.
Dalam kasus F-16, Indonesia tidak akan mendapat peralatan lebih canggih dari barang rongsokan tersebut, karena hubungan militer Indonesia dan Amerika Serikat selalu mengalami naik turun, tidak selalu dinamis. Namun, alasan yang paling kuat adalah kekhawatiran Amerika Serikat terhadap gangguan kepentingan-kepentingan dengan mitra cantiknya yang ada dirantau, terutama dengan Singapore dan Australia.
Bisa kita lihat, ternyata Israel mampu mendapatkan generasi I atau II dari Amerika dan bukan rongsokan. Misalnya pada Oktober 2010 Israel sudah memesan sekitar 20 buah F-35I generasi mutakhir dari F-35. F 35I khusus dibuat dan dipasok untuk Israel.

Satu hal, bahwa hanya Israel yang akan mendapatkan senjata mutahir dari Amerika Serikat, tidak seperti yang diduga oleh Menhan maupun pengamat militer [Israel mau menerima F-16 ronsokan yang “dijual kiloan”].
Bagi Amerika Serikat, di dunia ini tidak ada anak emas militer yang lebih dimanja kecuali Israel, dengan itu semua keperluan militer Israel akan lebih diutamakan. Bujet militer Israel saja di support langsung dari Amerika Serikat, baru kemudian menyusul Singapore. Satu-satunya negara kecil yang memiliki 4 pesawat AWACS dan menjadikan Singgapore menjadi 10 besar negara pembeli senjata di dunia. Kenapa negara se kecil Singapore ini diperlengkapi oleh Amerika Serikat dengan peralatan yang begitu canggih?
Jadi pertanyannya adalah kenapa Indonesia yang memiliki potensi besar dan kemampuan hebat tidak dapat memecahkan kebuntuan dan dominasi yang di'haram'kan ini. Sebuah negara besar yang “cukup” kaya dan berpotensi untuk jauh lebih kuat, ternyata tidak dapat meningkatkan militernya dengan baik dan lebih baik dari sekarang dengan cara mandiri. Dan mengapa harus selalu terikat dan terbelenggu dengan hegemoni Amerika Serikat, padahal, dibelahan bumi ini Indonesia masih punya tetangga yang tak lebih hebat dari Amerika Serikat.
Satu hal, saat ini hanya negara Indonesia saja yang memiliki pesawat tempur buatan Amerika Serikat tanpa di lengkapi dengan AIM-120 AMRAAM di negara-negara Asia Tenggara.
Dan nampaknya, pejabat-pejabat senior pemerintahan di Jakarta terkait "hibah" F-16 rongsokan yang berbau kontroversial sejauh ini lebih memilih menyiramkan air dingin dan memilih memuluskan hegemoni dan ketergantungan Indonesia terhadap Amerika Serikat. Sebuah perjalanan panjang unit bisnis dari era pemerintah Soeharto, tentara selalu hadir dan menjadi pemain utama di hampir semua sektor bisnis dan perdagangan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar